Pemeliharaan Benih Ikan Banggai Cardinalfish

By | 2017-05-09

Wadah Pemeliharaan Benih

Pemeliharaan benih ikan banggai cardinalfish di hatchery dapat dilakukan dalam wadah aquarium persegi empat, polycarbonate ataupun fiberglass. Di dalam wadah pemeliharaan benih dilengkapi dengan aerasi dan sistem pergantian air seperti terlihat pada gambar berikut:

Wadah Pemeliharaan

Wadah Pemeliharaan ikan banggai cardinalfish

Keterangan gambar:

A : Aquarium

B : Fiberglass.

Untuk pemeliharaan benih di KJA, jaring yang digunakan berukuran mata jaring 3-5 mm dan di dalam jaring juga dimasukan bulu babi sebagai tempat persembnyian benih. Di atas jaring diberi lampu untuk mengumpulkan pakan alami ke dalam jaring pemeliharaan pada malam hari. Perhatikan gambar berikut:

Wadah pemeliharaan

Wadah pemeliharaan banggai cardinalfish KJA

Pemeliharaan Benih

Benih-benih ikan banggai cardinalfish yang telah dikeluarkan oleh individu jantan dapat dikumpulkan dengan menggunakan serok, selanjutnya dipindahkan ke dalam wadah pemeliharaan benih. Mengingat bahwa satu ekor induk hanya menghasilkan 20-60 ekor benih, maka wadah pemeliharaan benih sebaiknya tidak terlalu besar, sehingga dapat ditempatkan benih dengan umur yang sama.

Benih ikan banggai cardinalfish umur 1 hari (D-1) yaitu benih yang baru dikeluarkan dari mulut induk jantan, dipelihara dalam aquarium atau wadah pemeliharaan yang telah diisi air laut melalui filter pasir. Di dalam wadah pemeliharaan diberi aerasi untuk meningkatkan kandungan oksigen dan juga dilengkapi sistem pergantian air agar kualitas air tetap optimal. Benih diberi pakan berupa rotifer, naupli artemia, kopepoda, artemia pra dewasa dan jembret dengan skema pemberian sebagai berikut:

  1. Rotifer diberikan pada umur benih berumur 1-14 hari (D1-D14) dengan kepadatan 20 individu/mL,
  2. Naupli Artemia diberikan pada benih dari D1-D28 dengan rincian pemberian pada umur D1-D7 kepadatan naupli artemia 150 individu/ekor benih, D8-D14: 300 individu/ekor benih, D15-D21: 500 individu/ekor benih dan D22-D28: 800 individu/ekor benih (Gunawan et al., 2009),
  3. Kopepoda diberikan dari D1 sampai benih umur 8 minggu,
  4. Jembret dan Artemia pra dewasa diberikan setelah benih berumur 21 hari (D21) disesuaikan dengan kebutuhan,
  5. Setelah D30 benih dipelihara dalam bak fiberglass volume 0,5 m³ dengan melanjutkan pemberian jembret dan Artemia pra dewasa.

Berikut ini skema pemberian pakan selama pemeliharaan benih ikan banggai cardinalfish (Pteragon kaudermi):

Skema pakan banggai cardinalfish

Skema pakan banggai cardinalfish

Pembersihan dasar bak pemeliharaan benih ikan banggai cardinalfish dapat dilakukan setiap hari dengan menggunakan alat penyiphon. Pergantian air dilakukan dengan sistem air mengalir dengan presentasi 100 – 200% per hari.

Pada pemeliharaan benih ikan banggai cardinalfish di KJA, benih yang baru diambil dari dalam jaring induk, terlebih dahulu dipelihara dalam jaring kecil ukuran 40x40x70 cm³ dengan lubang mata jaring 5 mm. Di dalam jaring tersebut juga dimasukkan bulu babi (Diadema sp.). Bulu babi selain berfungsi sebagai tempat berlindung benih juga dapat mengontrol pertumbuhan ganggang hijau yang tumbuh menempel di dalam jaring dengan memanfaatkannya sebagai sumber makanan.

Selama pemeliharaan di KJA, benih tidak diberi pakan tambahan. Pakan berasal dari pakan alami yang ada di perairan. Untuk mengumpulkan pakan alami di dalam jaring, di atas jaring diberi lampu pada malam hari.

Penggantian jaring dilakukan setiap 2 bulan sekali, agar jaring tidak tertutup oleh kotoran dan detritus yang menempel di jaring sehingga dapat menghalangi masuknya pakan alami ke dalam jaring dan menghambat pergerakan air.

Pertumbuhan Benih

Benih ikan banggai cardinalfish saat pertama kali dikeluarkan dari mulut induk jantan (D1) mempunyai panjang total tubuh 10-11 mm. Dengan pemeliharaan yang intensif, benih dapat mencapai ukuran ±50 mm dalam waktu 3 bulan dan sudah siap dipanen untuk di pasarkan.

perkembangan benih banggai cardinalfish

perkembangan benih banggai cardinalfish

Pertumbuhan benih yang dipelihara di KJA menunjukan laju yang lebih cepat dibandingkan benih yang dipelihara di hatchery. Namun sintasan benih yang dihasilkan di KJA hanya 85%, lebih rendah dari pada benih di hatchery. Hal ini disebabkan adanya kematian beberapa ekor benih pada awal pemeliharaan yang disebabkan pengaruh lingkungan disekitar perairan KJA, terutama pengaruh cuaca. Sedangkan untuk benih di hatchery, sintasan yang dihasilkan dapat mencapai 100% dengan pengelolaan lingkungan dan pakan yang optimal. Jadi untuk lebih efektif dan efisien sebaiknya benih dipelihara di hatchary sampai mencapai ukuran 2,5-3 cm atau pemeliharaan kurang lebih 1 bulan, untuk selanjutnya benih dibesarkan di KJA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *